PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM ORGANISASI
1. Pengertian Keputusan
Pengambilan keputusan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi individu maupun organisasi. Mengambil keputusan kadang-kadang mudah tetapi lebih sering sulit sekali. Kemudahan atau kesulitan mengambil keputusan tergantung pada banyaknya alternatif yang tersedia. Semakin banyak alternatif yang tersedia, kita akan semakin sulit dalam mengambil keputusan. Keputusan yang diambil memiliki tinkat yang berbeda-beda. Ada keputusan yang tidak terlalu berpengaruh terhadap organisasi, tetapi ada keputusan yang dapat menentukan kelangsungan hidup organisasi. Oleh karena itu, hendaknya mengambil keputusan dengan hati-hati dan bijaksana.
Keputusan adalah sesuatu pilihan yang diambil diantara satu atau lebih pilihan yang tersedia.
2. Jenis-Jenis Keputusan
Jenis Keputusan dalam sebuah organisasi dapat digolongkan berdasarkan banyaknya waktu yang diperlukan untuk mengambil keputusan tersebut. Bagian mana organisasi harus dilibatkan dalam mengambil keputusan, dan pada bagian organisasi mana keputusan tersebut difokuskan.
Secara garis besar keputusan digolongkan ke dalam keputusan rutin dan keputusan yang tidak rutin. Keputusan rutin adalah keputusan yang sifatnya rutin dan berulang-ulang, dan biasanya telah dikembangkan cara tertentu untuk mengendalikannya. Keputusan tidak rutin adalah keputusan yang diambil pada saat-saat khusus dan tidak bersifat rutin.
Dalam mengambil keputusan, baik yang bersifat rutin maupun tidak, ada dua metode yang digunakan. Metode pertama adalah metode tradisional, dimana pengambilan keputusan lebih berdasarkan pada intuisi dan kebiasaan. Metode yang kedua adalah metode modern, dimana pengambilan keputusan didasarkan pada perhitungan matematis dan penggunaan instrumen yang bersifat modern, seperti komputer dan perhitungan statistik.
Pengambilan keputusan berdasrkan metode ada 2, yaitu tradisional dan modern. Pengambilan keputusan secara garis besar ada 2, yaitu rutin dan tidak rutin.
3. Tingkat Pengambilan Keputusan
Banyak jenis keputusan yang berbeda harus dibuat dalam organisasi. Seperti bagaimana membuat suatu produk, bagaimana memelihara mesin, bagaimana menjamin kualitas produk dan bagaimana membentuk hubungan yang saling menguntungkan dengan pelanggan.
Dengan keputusan yang berbeda ini, beberapa tipe dasar pemikiran harus dikembangkan untuk menetapkan siapa saja yang memiliki tanggung jawab untuk membuat keputusan dalam organisasi.
Pemikiran tersebut didasarkan pada dua faktor berikut :
Sejauh mana keputusan yang diambil akan mempengaruhi pihak lain.
Tingkat manajemen.
Keputusan yang diambil mungkin hanya memiliki sedikit pengaruh terhadap organisasi secara umum, tetapi bisa saja sebaliknya. Semakin banyak pengaruh keputusan yang diambil terhadap organisasi tersebut, semakin vital keputusan tersebut. Tingkatan pada manajemen menuntuk pada manajemen tingkat bawah, menengah, dan atas. Dasar pemikiran untuk menentukan siapa yang akan mengambil keputusan adalah semakin besar pengaruh keputusan yang diambil terhadap organisasi (yang artinya semakin vital keputusan tersebut) maka semakin tinggi tingkatan manajer yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan tersebut.
Walaupun seseorang wirausahawan memiliki tanggung jawab dalam pembuatan keputusan tertentu, tidak berarti ketika mengambil keputusan tidak membutuhkan bantuan orang lain, terutama anggota organisasinya.
Ada sebuah cara yang disebut “konsensus” yang biasa digunakan wirausahawan untuk mendorong anggota organisasi terlibat dalam pengambilan keputusan tertentu. Konsensus adalah persetujuan dalam pengambilan keputusan oleh semua individu yang terlibat didalamnya. Konsensus biasanya terjadi setelah pertimbangan dan pembahasan mendalam yang lama oleh anggota-anggota dari kelompok yang mengambil keputusan.
Keputusan melalui konsensus memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kelebihannya : Seorang wirausaha dapat lebih memanfaatkan perhatian pada konsep, sementara anggota organisasi lainnya mengembangkan konsep dasar tersebut menjadi sebuah keputusan konkrit dan dapat diambil.
Kekurangannya : terlalu banyak orang yang dilibatkan, amak pengambilan keputusan memakan waktu yang relatif lama dan biayanya yang relatif mahal.
4. Proses pengambilan keputusan
Proses pengambilan keputusan didefinisikan sebagai langkah yang diambil oleh pembuat keputusan untuk memilih alternatif yang tersedia. Adapun langkah sistematis yang harus dilakukan dalam proses pengambilan keputusan adalah sebgai berikut :
Mengidentifikasi atau mengenali masalah yang dihadapi
Mencari alternatif perusahaan bagi masalah yang dihadapi
Memilih alternatif yang paling efisien dan efektif untuk memecahkan masalah
Melaksanakan alternatif tersebut
Mengevaluasi apakah alternatif yang dilaksanakan berhasil dan sesuai dengan yang diharapkan.
Berikut ini merupakan penjabaran proses pengambilan keputusan.
1. Pengambilan keputusan
Pengambilan keputusan pada dasarnya adalah proses pemecahan masalah yang menghalangi atau menghambat tercapainya tujuan. Agar masalah dapat dipecahkan, terlebih dahulu harus dikenali apa masalahnya.
2. Mencari alternatif pemecahan
Setelah masalh dikenali maka dapat dilakukan pencarian terhadap alternatif-alrternatif yang mungkin dapat memecahkan masalah yang dihadapi. Dalam mencari alternatif hendaknya tidak mamikirkan masalah efisiensi dan efektifitas. Ynag terpenting adalah mengumpulkan sebanyak-banyaknya alternatif. Setelah alternatif terkumpul, barulah disusun berurutan dari yang paling diinginkan sampai yang tidak diinginkan.
3. Memilih alternatif
Setelah alternatif tersusun, barulah dapat dilakukan pilihan alternatif yang dapat memberikan manfaat, dalam arti dapat memecahkan masalah dengan cara yang paling efektif dan efisien. Sebelum menjatuhkan pilihan pada sebuah alternatif, ajukan pertanyaan untuk tiap-tiap alternatif.
4. Pelaksanaan alternatif
Setelah alternatif dipilih, tibalah saatnya melaksanakannya ke dalam bentuk tindakan. pelaksanaan harus sesuai denga rencana, agar tujuan memecahkan masalh dapat tercapai.
5. Evaluasi
Setelah alternatif dilaksanakan, bukan berarti proses pengambilan keputusan telah selesai. Pelaksanaan alternatif harus terus diamati, apakah berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Bila langkah-langkah pelaksanaan telah dilakukan dengan benar tetapi hasil yang dicapai tidak maksimal, sudah waktunya untuk mempertimbangkan kembali pemilihan alternatif lainnya. Tidak maksimalnya hasil yang dicapai mungkin terjadi karena pengaruh negatif potensial benar-benar terjadi, atau mungkin pengaruh negatif yang tadinya tidak diperkirakan.
Langkah proses pengambilan keputusan ada 5, yaitu identifikasi masalah, mencari alternatif pemecahan, pelaksanaan alternatif, dan evaluasi.
Senin, 04 Mei 2015
Jumat, 03 April 2015
BEKERJASAMA DALAM KELOMPOK
BEKERJASAMA DALAM TEAM (KELOMPOK)
PENGERTIAN KOMUNIKASI KELOMPOK
Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Kedua definisi komunikasi kelompok di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu umtuk mencapai tujuan kelompok.
Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut (Deddy Mulyana, 2005). Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, kelompok pemecahan masalah, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Dalam komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi. Karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok.
Klasifikasi kelompok dan karakteristik komunikasinya.
Telah banyak klasifikasi kelompok yang dilahirkan oleh para ilmuwan sosiologi, namun dalam kesempatan ini kita sampaikan hanya tiga klasifikasi kelompok.
- Kelompok primer dan sekunder.
Charles Horton Cooley pada tahun 1909 (dalam Jalaludin Rakhmat, 1994) mengatakan bahwa kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerja sama. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita.
Jalaludin Rakhmat membedakan kelompok ini berdasarkan karakteristik komunikasinya, sebagai berikut:
- Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam, artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, menyingkap unsur-unsur backstage (perilaku yang kita tampakkan dalam suasana privat saja). Meluas, artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.
- Komunikasi pada kelompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
- Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok primer adalah sebaliknya.
- Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.
- Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal.
- Kelompok keanggotaan dan kelompok rujukan.
Theodore Newcomb (1930) melahirkan istilah kelompok keanggotaan (membership group) dan kelompok rujukan (reference group). Kelompok keanggotaan adalah kelompok yang anggota-anggotanya secara administratif dan fisik menjadi anggota kelompok itu. Sedangkan kelompok rujukan adalah kelompok yang digunakan sebagai alat ukur (standard) untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap.
Menurut teori, kelompok rujukan mempunyai tiga fungsi: fungsi komparatif, fungsi normatif, dan fungsi perspektif. Saya menjadikan Islam sebagai kelompok rujukan saya, untuk mengukur dan menilai keadaan dan status saya sekarang (fungsi komparatif. Islam juga memberikan kepada saya norma-norma dan sejumlah sikap yang harus saya miliki-kerangka rujukan untuk membimbing perilaku saya, sekaligus menunjukkan apa yang harus saya capai (fungsi normatif). Selain itu, Islam juga memberikan kepada saya cara memandang dunia ini-cara mendefinisikan situasi, mengorganisasikan pengalaman, dan memberikan makna pada berbagai objek, peristiwa, dan orang yang saya temui (fungsi perspektif). Namun Islam bukan satu-satunya kelompok rujukan saya. Dalam bidang ilmu, Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) adalah kelompok rujukan saya, di samping menjadi kelompok keanggotaan saya. Apapun kelompok rujukan itu, perilaku saya sangat dipengaruhi, termasuk perilaku saya dalam berkomunikasi.
· Kelompok deskriptif dan kelompok preskriptif
John F. Cragan dan David W. Wright (1980) membagi kelompok menjadi dua: deskriptif dan peskriptif. Kategori deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah. Berdasarkan tujuan, ukuran, dan pola komunikasi, kelompok deskriptif dibedakan menjadi tiga: a. kelompok tugas; b. kelompok pertemuan; dan c. kelompok penyadar. Kelompok tugas bertujuan memecahkan masalah, misalnya transplantasi jantung, atau merancang kampanye politik. Kelompok pertemuan adalah kelompok orang yang menjadikan diri mereka sebagai acara pokok. Melalui diskusi, setiap anggota berusaha belajar lebih banyak tentang dirinya. Kelompok terapi di rumah sakit jiwa adalah contoh kelompok pertemuan. Kelompok penyadar mempunyai tugas utama menciptakan identitas sosial politik yang baru. Kelompok revolusioner radikal; (di AS) pada tahun 1960-an menggunakan proses ini dengan cukup banyak.
Kelompok preskriptif, mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok. Cragan dan Wright mengkategorikan enam format kelompok preskriptif, yaitu: diskusi meja bundar, simposium, diskusi panel, forum, kolokium, dan prosedur parlementer.
Pengaruh kelompok pada perilaku komunikasi
- Konformitas.
Konformitas adalah perubahan perilaku atau kepercayaan menuju (norma) kelompok sebagai akibat tekanan kelompok-yang real atau dibayangkan. Bila sejumlah orang dalam kelompok mengatakan atau melakukan sesuatu, ada kecenderungan para anggota untuk mengatakan dan melakukan hal yang sama. Jadi, kalau anda merencanakan untuk menjadi ketua kelompok,aturlah rekan-rekan anda untuk menyebar dalam kelompok. Ketika anda meminta persetujuan anggota, usahakan rekan-rekan anda secara persetujuan mereka. Tumbuhkan seakan-akan seluruh anggota kelompok sudah setuju. Besar kemungkinan anggota-anggota berikutnya untuk setuju juga.
- Fasilitasi sosial.
Fasilitasi (dari kata Prancis facile, artinya mudah) menunjukkan kelancaran atau peningkatan kualitas kerja karena ditonton kelompok. Kelompok mempengaruhi pekerjaan sehingga menjadi lebih mudah. Robert Zajonz (1965) menjelaskan bahwa kehadiran orang lain-dianggap-menimbulkan efek pembangkit energi pada perilaku individu. Efek ini terjadi pada berbagai situasi sosial, bukan hanya didepan orang yang menggairahkan kita. Energi yang meningkat akan mempertingi kemungkinan dikeluarkannya respon yang dominan. Respon dominan adalah perilaku yang kita kuasai. Bila respon yang dominan itu adalah yang benar, terjadi peningkatan prestasi. Bila respon dominan itu adalah yang salah, terjadi penurunan prestasi. Untuk pekerjaan yang mudah, respon yang dominan adalah respon yang banar; karena itu, peneliti-peneliti melihat melihat kelompok mempertinggi kualitas kerja individu.
- Polarisasi.
Polarisasi adalah kecenderungan ke arah posisi yang ekstrem. Bila sebelum diskusi kelompok para anggota mempunyai sikap agak mendukung tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan lebih kuat lagi mendukung tindakan itu. Sebaliknya, bila sebelum diskusi para anggota kelompok agak menentang tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan menentang lebih keras.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan kelompok
Anggota-anggota kelompok bekerja sama untuk mencapai dua tujuan: a. melaksanakan tugas kelompok, dan b. memelihara moral anggota-anggotanya. Tujuan pertama diukur dari hasil kerja kelompok-disebut prestasi (performance) tujuan kedua diketahui dari tingkat kepuasan (satisfacation). Jadi, bila kelompok dimaksudkan untuk saling berbagi informasi (misalnya kelompok belajar), maka keefektifannya dapat dilihat dari beberapa banyak informasi yang diperoleh anggota kelompok dan sejauh mana anggota dapat memuaskan kebutuhannya dalam kegiatan kelompok.
Untuk itu faktor-faktor keefektifan kelompok dapat dilacak pada karakteristik kelompok, yaitu:
- ukuran kelompok.
- jaringan komunikasi.
- kohesi kelompok.
- kepemimpinan (Jalaluddin Rakhmat, 1994).
Tahapan Pembentukan Kelompok
Perkembangan sebuah kelompok selalu berbeda satu dengan yang lainnya. Namun demikian, terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk membentuk sebuah kelompok. Berikut ini adalah beberapa tahapan dalam pembentukan kelompok.
Forming. Forming adalah tahap orang berkumpul dan membentuk sebuah kelompok. Pada suatu kegiatan, tidak sedikit peserta yang mengikutinya karena penugasan. Kondisi seperti ini tidak jarang menimbulkan perasaan was-was maupun keraguan di hati peserta tersebut. Beberapa pertanyaan yang mungkin muncul adalah “Apakah saya dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik?” atau “Apakah saya dapat berbaur dengan peserta yang lain?”. Seorang fasilitator diharapkan dapat memastikan bahwa setiap peserta yang terlibat dalam kegiatan tersebut merasa nyaman dengan lingkungan barunya tersebut. Berikan perhatian secara khusus kepada peserta. Berikan waktu kepada para peserta untuk saling mengenal satu sama lain. Pada kesempatan ini, fasilitator dapat pula menggunakan permainan yang memecah kekakuan (ice breaker).Informing. Informing merupakan tahap dimana kelompok yang baru terbentuk tersebut diberi penjelasan tentang tujuan dari kegiatan yang akan diselenggarakan. Pada tahap ini biasanya akan didapati interaksi antaranggota karena setiap peserta mulai sadar bahwa mereka menuju pada tujuan yang sama. Seorang fasilitator biasanya akan mencari titik pijak yang sama, dan membentuk visi, misi, serta tujuan kelompok. Fasilitator diharapkan dapat menggunakan kegiatan pengenalan dan agenda yang jelas.
Storming. Pada tahap ini, pembangunan peran diantara masing-masing peserta mulai terbentuk. Storming merupakan fase yang sangat penting dalam dinamika kelompok, karena pada tahap ini akan terjadi tarik menarik, uji coba, bahkan konflik. Benturan antarpribadi sangat mungkin terjadi pada tahap ini – bahkan benturan antara peserta dengan pemimpin kelompok. Seorang fasilitator diharapkan dapat memberikan dukungan kepada seluruh kelompok. Dengan mengembangkan dan menggunakan teknik-teknik fasilitasi, fasilitator juga perlu senantiasa mengingatkan peserta akan tujuan dan norma-norma kelompok. Usahakan agar fasilitator dapat menjaga terjadinya keterbukaan dan mendorong setiap peserta untuk mengatasi konflik yang terjadi.
Norming. Tahapan ini merupakan tahap stabilisasi dimana aturan, ritual, dan prosedur telah ditetapkan dan diterima oleh seluruh peserta. Peserta telah menyepakati identitas perasn sehingga terciptanya suasana kebersamaan. Jalan menuju kemajuan disepakati dan disetujui bersama. Fasilitator diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menghaluskan proses. Jika diperlukan, perbaiki atau sesuaikan norma yang ada, untuk kemudian diserahkan kembali implementasinya kepada kelompok.
Mourning. Mourning merupakan tahap akhir dari proses pembentukan sebuah kelompok. Pada tahapan ini, seluruh tugas telah selesai dikerjaan dan tujuan utama pembentukan kelompok sudah terpenuhi. Siklus kehidupan kelompok secara resmi telah berakhir. Terkadang muncul rasa sedih diantara peserta. Sebagian mulai memikirkan tugas lain yang telah menanti. Fasilitator yang baik diharapkan dapat membantu peserta dalam mempersiapkan masa transisi dari pembentukan kelompok menuju bubarnya kelompok. Pastikan bahwa ada semacam ‘ritual’ perpisahan, baik secara individu maupun secara kelompok.
Transforming. Pada tahapan ini, tim telah menjadi dinamis karena pembentukan kelompok sudah terjadi dan mulai ada perubahan baik di masing-masing peserta maupun pada kelompok secara keseluruhan. Sebagai seorang fasilitator, diharapkan dapat menunjukkan dukungan dan rasa percaya kepada kelompok. Hargai perubahan yang terjadi dengan memberikan pujian. Yang perlu diingat adalah sebaiknya pujian yang diberikan tidak berlebihan.
Forming. Forming adalah tahap orang berkumpul dan membentuk sebuah kelompok. Pada suatu kegiatan, tidak sedikit peserta yang mengikutinya karena penugasan. Kondisi seperti ini tidak jarang menimbulkan perasaan was-was maupun keraguan di hati peserta tersebut. Beberapa pertanyaan yang mungkin muncul adalah “Apakah saya dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik?” atau “Apakah saya dapat berbaur dengan peserta yang lain?”. Seorang fasilitator diharapkan dapat memastikan bahwa setiap peserta yang terlibat dalam kegiatan tersebut merasa nyaman dengan lingkungan barunya tersebut. Berikan perhatian secara khusus kepada peserta. Berikan waktu kepada para peserta untuk saling mengenal satu sama lain. Pada kesempatan ini, fasilitator dapat pula menggunakan permainan yang memecah kekakuan (ice breaker).Informing. Informing merupakan tahap dimana kelompok yang baru terbentuk tersebut diberi penjelasan tentang tujuan dari kegiatan yang akan diselenggarakan. Pada tahap ini biasanya akan didapati interaksi antaranggota karena setiap peserta mulai sadar bahwa mereka menuju pada tujuan yang sama. Seorang fasilitator biasanya akan mencari titik pijak yang sama, dan membentuk visi, misi, serta tujuan kelompok. Fasilitator diharapkan dapat menggunakan kegiatan pengenalan dan agenda yang jelas.
Storming. Pada tahap ini, pembangunan peran diantara masing-masing peserta mulai terbentuk. Storming merupakan fase yang sangat penting dalam dinamika kelompok, karena pada tahap ini akan terjadi tarik menarik, uji coba, bahkan konflik. Benturan antarpribadi sangat mungkin terjadi pada tahap ini – bahkan benturan antara peserta dengan pemimpin kelompok. Seorang fasilitator diharapkan dapat memberikan dukungan kepada seluruh kelompok. Dengan mengembangkan dan menggunakan teknik-teknik fasilitasi, fasilitator juga perlu senantiasa mengingatkan peserta akan tujuan dan norma-norma kelompok. Usahakan agar fasilitator dapat menjaga terjadinya keterbukaan dan mendorong setiap peserta untuk mengatasi konflik yang terjadi.
Norming. Tahapan ini merupakan tahap stabilisasi dimana aturan, ritual, dan prosedur telah ditetapkan dan diterima oleh seluruh peserta. Peserta telah menyepakati identitas perasn sehingga terciptanya suasana kebersamaan. Jalan menuju kemajuan disepakati dan disetujui bersama. Fasilitator diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menghaluskan proses. Jika diperlukan, perbaiki atau sesuaikan norma yang ada, untuk kemudian diserahkan kembali implementasinya kepada kelompok.
Mourning. Mourning merupakan tahap akhir dari proses pembentukan sebuah kelompok. Pada tahapan ini, seluruh tugas telah selesai dikerjaan dan tujuan utama pembentukan kelompok sudah terpenuhi. Siklus kehidupan kelompok secara resmi telah berakhir. Terkadang muncul rasa sedih diantara peserta. Sebagian mulai memikirkan tugas lain yang telah menanti. Fasilitator yang baik diharapkan dapat membantu peserta dalam mempersiapkan masa transisi dari pembentukan kelompok menuju bubarnya kelompok. Pastikan bahwa ada semacam ‘ritual’ perpisahan, baik secara individu maupun secara kelompok.
Transforming. Pada tahapan ini, tim telah menjadi dinamis karena pembentukan kelompok sudah terjadi dan mulai ada perubahan baik di masing-masing peserta maupun pada kelompok secara keseluruhan. Sebagai seorang fasilitator, diharapkan dapat menunjukkan dukungan dan rasa percaya kepada kelompok. Hargai perubahan yang terjadi dengan memberikan pujian. Yang perlu diingat adalah sebaiknya pujian yang diberikan tidak berlebihan.
KEKUATAN TEAM WORK
Berdua lebih baik dari seorang diri, tali tiga lembar tak mudah diputuskan.
Anda tentu ingat karakter Superman. Tokoh fantasi idola tua muda yang gemar menolong dan menang melawan segala kejahatan. Almarhum Christopher Reeve menjadi sangat terkenal ketika ia memerankan tokoh Superman. Mendekati akhir hidupnya, Reeve mengalami kecelakaan yang mengakibatkan ia lumpuh total. Namun ”Sang Superman”, dengan bantuan keluarga, rekan dan medis sanggup meneruskan hidupnya dengan baik, bahkan menjadi sutradara film.
Apa yang dapat disimak dari peristiwa ini ? Tak seorangpun yang benar-benar bisa menjadi Superman. Semua manusia ternyata saling membutuhkan. Sebuah kekuatan dan kehebatan terletak dari kerjasama dan sinergi yang harmonis.
Apa yang dapat disimak dari peristiwa ini ? Tak seorangpun yang benar-benar bisa menjadi Superman. Semua manusia ternyata saling membutuhkan. Sebuah kekuatan dan kehebatan terletak dari kerjasama dan sinergi yang harmonis.
Kegagalan the lone ranger.
Memang benar ada orang yang memiliki banyak talenta dan sanggup mengerjakan berbagai pekerjaan sekaligus ( multi tasking). Namun ia tetap membutuhkan orang lain. Untuk sementara ia kelihatan unggul, tapi sesungguhnya ia tak akan mampu bersaing menghadapi kekuatan sebuah tim.
Memang benar ada orang yang memiliki banyak talenta dan sanggup mengerjakan berbagai pekerjaan sekaligus ( multi tasking). Namun ia tetap membutuhkan orang lain. Untuk sementara ia kelihatan unggul, tapi sesungguhnya ia tak akan mampu bersaing menghadapi kekuatan sebuah tim.
Seorang pemilik perusahaan bermaksud mencari rekanan untuk jasa training di kantornya. Ia menghubungi sebuah perusahaan training dan menanyakan perihal kompetensi sang trainer. Dengan bangga sang trainer menjawab bahwa ia sanggup mengajarkan semua bidang keahlian yang diinginkan pemilik perusahaan. Harapannya ia pasti memperoleh pekerjaan tersebut. Namun ia harus kecewa, karena ternyata si bos mencari trainer yang expert pada bidang tertentu dan bukan yang bisa segalanya.
Di tengah era globalisasi, spesialisasi sangat diperlukan.
Apa yang dilakukan seorang CEO – Chief Executive Officer untuk membangun tim kerjanya yang solid dan terintegrasi ? Pemimpin yang handal akan membentuk struktur organisasi dengan menempatkan orang yang tepat pada bidangnya dan mampu bekerja sama dengan baik.
1.Spesifik.
Analogi yang paling tepat adalah jari-jari tangan kita. Bayangkan apa yang terjadi jika kita memiliki jari yang semuanya terdiri atas jempol atau kelingking. Namun jari kita diciptakan sesuai dengan fungsi dan keunikan masing-masing. Keragaman memperkuat fungsi, memperkaya khazanah dan kompetensi dari tim kerja kita.
2.Delegasi.
Delegasi berbicara mengenai pemahaman fungsi dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan. Tim kerja yang tidak jelas job desc nya tidak mungkin dapat bekerja sama dengan baik. Delegasi diawali dengan penempatan yang tepat sesuai kapasitas dan kompetensi masing-masing anggota tim kerja.
Apa yang dilakukan seorang CEO – Chief Executive Officer untuk membangun tim kerjanya yang solid dan terintegrasi ? Pemimpin yang handal akan membentuk struktur organisasi dengan menempatkan orang yang tepat pada bidangnya dan mampu bekerja sama dengan baik.
1.Spesifik.
Analogi yang paling tepat adalah jari-jari tangan kita. Bayangkan apa yang terjadi jika kita memiliki jari yang semuanya terdiri atas jempol atau kelingking. Namun jari kita diciptakan sesuai dengan fungsi dan keunikan masing-masing. Keragaman memperkuat fungsi, memperkaya khazanah dan kompetensi dari tim kerja kita.
2.Delegasi.
Delegasi berbicara mengenai pemahaman fungsi dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan. Tim kerja yang tidak jelas job desc nya tidak mungkin dapat bekerja sama dengan baik. Delegasi diawali dengan penempatan yang tepat sesuai kapasitas dan kompetensi masing-masing anggota tim kerja.
3.Kerjasama.
Si buta dan si lumpuh saling bertetangga, namun saling bermusuhan. Tanpa henti mereka saling mengolok-olok kekurangan masing-masing. Suatu saat desa mereka di landa banjir. Semua penduduk mengungsi ke bukit. Tinggallah mereka berdua. Akhirnya mereka menyadari kesalahan masing-masing dan mau saling menerima. Si buta membopong si lumpuh. Dengan petunjuk si lumpuh, si buta bergegas berjalan naik ke bukit. Setiap manusia punya kelebihan tapi juga kekurangan. Jika belajar untuk saling menerima, sesama manusia akan mudah membangun sinergi dalam tim kerja.
Si buta dan si lumpuh saling bertetangga, namun saling bermusuhan. Tanpa henti mereka saling mengolok-olok kekurangan masing-masing. Suatu saat desa mereka di landa banjir. Semua penduduk mengungsi ke bukit. Tinggallah mereka berdua. Akhirnya mereka menyadari kesalahan masing-masing dan mau saling menerima. Si buta membopong si lumpuh. Dengan petunjuk si lumpuh, si buta bergegas berjalan naik ke bukit. Setiap manusia punya kelebihan tapi juga kekurangan. Jika belajar untuk saling menerima, sesama manusia akan mudah membangun sinergi dalam tim kerja.
Membiasakan diri bekerja secara tim.
Tidak banyak yang memiliki bakat alamiah sebagai pemimpin. Namun sebagian besar pemimpin sulit mendelegasikan atau bekerja sama dengan orang lain. Ego yang kuat dan sulit mempercayai merupakan halangan terbesar dalam tim kerja. Namun hal ini dapat dikelola dan dilatih agar kita tidak terjebak dalam kegagalan the lone ranger. Pemimpin tidak dilahirkan, melainkan dibentuk. Sama halnya dengan tim kerja yang harus dibangun dengan melewati berbagai proses pembentukan. Diawali dengan tahap pengenalan pribadi dan sesama anggota, lalu ada tahap konflik dan perbedaan pendapat. Kemudian terjadi proses saling memahami dan penyesuaian pribadi yang dilanjutkan dengan kemampuan untuk saling mengisi dan sinergi. Ketika seorang merasa lemah, maka anggota tim yang lain akan dapat menolong. Itulah keunggulan sebuah sinergi tim kerja.
Tidak banyak yang memiliki bakat alamiah sebagai pemimpin. Namun sebagian besar pemimpin sulit mendelegasikan atau bekerja sama dengan orang lain. Ego yang kuat dan sulit mempercayai merupakan halangan terbesar dalam tim kerja. Namun hal ini dapat dikelola dan dilatih agar kita tidak terjebak dalam kegagalan the lone ranger. Pemimpin tidak dilahirkan, melainkan dibentuk. Sama halnya dengan tim kerja yang harus dibangun dengan melewati berbagai proses pembentukan. Diawali dengan tahap pengenalan pribadi dan sesama anggota, lalu ada tahap konflik dan perbedaan pendapat. Kemudian terjadi proses saling memahami dan penyesuaian pribadi yang dilanjutkan dengan kemampuan untuk saling mengisi dan sinergi. Ketika seorang merasa lemah, maka anggota tim yang lain akan dapat menolong. Itulah keunggulan sebuah sinergi tim kerja.
KATA-KATA BIJAK
Tim kerja yang solid tidak hanya mampu melewati masa-masa yang sulit, tetapi juga bersama-sama menikmati kegembiraan dan sukacita atas suatu keberhasilan.
Tim kerja yang solid tidak hanya mampu melewati masa-masa yang sulit, tetapi juga bersama-sama menikmati kegembiraan dan sukacita atas suatu keberhasilan.
Jumat, 28 November 2014
RESUME SOFTSKIL
KONFLIK
DIDALAM ORGANISASI
Konflik
adalah suatu proses sosial antara 2 orang atau lebih dimana satu pihak berusaha
menyingkirkan pihak lain. Didalam suatu organisasi konflik akan terlihat jika
kita tidak serius dalam menjalankan suatu organisasi tersebut. Sumber konflik
didalam suatu organisasi umumnya terjadi karena perbedaan individu yang
meliputi perbedaan pendirian dan perasaan. Pendirian dan perasaan yang berbeda
satu dengan yang lainnya, maka perbedaan ini menjadi pemicu timbulnya konflik
dalam suatu organisasi. Kepentingan individu dalam organisasi pasti
berbeda-beda. Biasanya seseorang cenderung mengikuti suatu organisasi agar
kebutuhannya dapat terpenuhi. Selain itu perubahan pola pikir yang mendadak
juga salah satu pemicu terjadinya konflik. Karena cara berfikir seseorang pasti
berbeda-beda dan kadang satu individu mudah sekali merubah pikiran sehingga
akan memperlambat untuk mencapai tujuan awal organisasi.
Cara
menyelesaikan konflik yang baik :
1.
Integrating (Problem Sloving)
Cara
ini digunakan untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapi. Biasanya digunakan
karena masalah kesalahpahaman.
2.
Obliging (Smoothing)
Cara
ini digunakan untuk mendorong suatu organisasi agar terjadinya kerjasama.
3.
Dominating (Forcing)
Biasanya
orang yang menggunakan cara ini cenderung menggunakan taktiknya.
4.
Avoiding (menghindar)
Cara
ini cocok untuk menyelesaikan masalah yang sepele atau rendah.
5.
Compromising
Cara
ini cocok digunakan untuk menangani masalah yang melibatkan para anggota
organisasi yang memiliki tujuan berbeda tapi mereka mempunyai kekuatan yang
sama.
Pertanyaan
:
1.
Berikan contoh konflik dalam
organisasi dan cara menanganinya !
Jawab
: Contoh konflik dalam organisasi yaitu perbedaan pendapat dalam pemilihan
pengurus baru. Cara menanganinya dapat dilakukan dengan cara penyelesaian
masalah mulai dari Integrating (Problem
Sloving), Obliging (Smoothing), Dominating (Forcing), Avoiding (menghindar),
dan Compromising tergantung dari besar kecilnya masalah tersebut.
2.
Bagaimana tanggapan kalian tentang
sidang saat pemilihan ketua DPR ?
Jawab
: Tanggapan saya adalah seharusnya sebagai wakil rakyat bisa menjaga sikapnya
dan memberikan contoh yang baik bagi warganya walaupun ingin mengemukakan
pendapat dan ada perbedaan pendapat dengan para anggota sidang seharusnya juga
bisa mengikuti tata tertib sidang dan menjaga kondisi agar sidang bisa berjalan
dengan baik.
3.
Bagaimana dampak organisasi
menyelesaikan konflik yang baik dengan cara problem sloving ?
Jawab
: Dampaknya sangat tidak baik bagi suatu organisasi karena membutuhkan waktu
yang lama dalam penyelesaian masalah. Karena dengan cara ini penyelesaikan masalah kita harus
mengidentifikasi permasalahannya terlebih dahulu, kemudian mempertimbangkan,
dan menganalisa permasalahan tersebut lalu memilih alternatif pemecahan masalah
yang sesuai.
4.
Contoh konflik yang meninggalkan
partai Gerindra, tindakan tersebut menurut anda benar atau salah ?
Jawab
: Untuk konflik ini saya tidak tahu tindakan yang dilakukan Bapak Ahok benar
atau salah karena saya tidak begitu paham tentang politik.
5.
Diantara 5 penyelesaian masalah, cara yang paling
efektif dalam menyelesaikan konflik yang mana?
Jawab
: Menurut saya cara yang paling efektif dalam penyelesaian konflik tidak ada
karena dalam menyelesaikan konflik harus ada tingkatan-tingkatan dalam
penyelesaiannya tergatung dari masalahnya. Namun cara yang paling disarankan
adalah cara compromissing, karena seimbang antara kepentingan pribadi dengan
kepentingan orang lain, sehingga tidak ada pihak yang egois ataupun ingin
menang sendiri.
PROSES
YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM ORGANISASI
Organisasi itu adalah sistem saling pengaruh antar orang
dalam kelompok yang bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Ada beberapa
pendapat para ahli tentang definisi organisasi salah satunya yang dikemukakan
oleh Ralp Currier Davis, ia mengatakan organisasi adalah sesuatu kelompok
orang-orang yang bekerja kearah tujuan bersama dibawah kepemimpinan.
Pengambilan keputusan dalam organisasi merupakan hasil proses komunikasi dan
partisipasi dari organisasi yang melibatkan banyak pihak. G.R Terry mengatakan
pengambilan keputusan dalam organisasi harus berdasarkan kriteria tertentu atas
dua atau lebih alternatif yang mungkin. Ada 5 tipe pembuatan keputusan yaitu,
pembuat keputusan bertipe ideal, pembuat keputusan bertipe receptive, pembuat
keputusan bertipe exploitative, bertipe hoarding dan bertipe marketing. Sesuatu
yang harus diperhatikan dalam pengambilan keputusan yaitu :
1.
Jangan pernah menganggap keputusan
itu sebagai beban tapi anggap saja sebagai kesempatan
2.
Jangan mengira resiko akan habis,
karena tidak ada keputusan tanpa resiko.
3.
Pengambilan keputusan tidak selalu
bergatung pada fakta.
4.
Membuat alternatif pemilihan dan
pengambilan keputusan dalam organisasi
Secara
ringkas alur proses pembuatan keputusan adalah
meneliti-meringkas-memilih-memeriksa.
Pertanyaan
:
1.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
pengambilan keputusan dalam organisasi!
Jawab
: Ada 3 faktor yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan, yaitu kematangan
individu, voting, musyawarah dan mufakat sangat diperlukan.
2.
Dalam tipe Marketing, jelaskan
aplikasinya dan bagaimana caranya?
Jawab
: Sipembuat keputusan yang berdasarkan orientasi pada kesempatan keputusan ,ia
fokus untuk mendapatkan suatu keputusan. Contoh aplikasinya yaitu Moboginie.
Moboginie mengeluarkan marketing bentuk topi putih dan topi hitam. Tujuannya
memasarkan iklan dan moboginie termasuk software opensoure.
3.
Contoh Tipe Pemeras dalam organisasi
!
Jawab
: Contohnya yaitu VOC. Karena VOC membuat sebuah jalan dari Anyer samapi ke
Panarukan yang dibuat di indonesia,tetapi dalam pembuatan jalan tersebut
pekerja tidak diberi makan dan minum dan mereka bekerja secara paksa. Tipe ini
adalah salah satu contoh yang membuat ide dan berusaha mendapatkan dari pihak
lain dengan cara yang tidak baik.
KOMUNIKASI
DALAM ORGANISASI
Komunikasi
itu dapat diartikan sebagai alat atau media pengirim informasi. Komunikasi
sangat penting dalam suatu organisasi, karena dengan adanya komunikasi akan
memudahkan kita untuk mencapai suatu tujuan yang ingin dicapai dari organisasi
tersebut. Banyak penggolongan komunikasi yang bisa kita pakai dalam suatu
organisasi. Salah satunya kita dapat menggunakan komunikasi verbal dan
nonverbal. Komunikasi verbal itu adalah komunikasi yang dilakukan secara lisan
maupun tulisan sedangkan komunikasi nonverbal itu kita bisa mengetahui
komunikasinya dari raut wajah seseorang dan intonasi suaranya. Dalam jaringan
komunikasi pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Contohnya jaringan komunikasi
roda, jaringan ini kecepatannya sangat tinggi namun sulit untuk menyesuaikan
diri terhadap suatu perubahan pekerjaan. Komunikasi dalam suatu organisasi
pasti tidak akan selalu berjalan dengan mulus pasti akan ada saja hambatannya.
Hambatan yang sangat berpengaruh adalah hambatan komunikasi. Karena komunikasi
itu adalah kunci utama dalam menjalankan suatu organisasi agar organisasi
tersebut bisa berjalan dengan lancar dan bisa memecahkan masalah yang sedang
dihadapi.
Pertanyaan
:
1.
Dalam organisasi pasti ada yang
aktif dan pasif. Bagaimana cara komunikasi antara yang aktif dan pasif itu bisa
menjadi lancar ?
Jawab
: Didalam suatu organisasi itu kita
harus melakukan musyawarah untuk bisa saling bertukar pikiran. Caranya yang
aktif tersebut merangkul yang pasif tersebut agar yang pasif itu bisa menjadi
aktif. Salah satunya dengan membuat suatu event agar organisasi itu bisa saling
bekerjasama.
2.
Jenis-jenis komunikasi yang paling
efisien !
Jawab
: Jaringan saluran total, karena mereka berkomunikasi secara langsung tanpa
adanya perantara.
3.
Sebutkan jaringan komunikasi yang
paling efisien untuk diterapkan !
Jawab
: Jaringan saluran total, karena mereka berkomunikasi secara langsung tanpa
perantara.
4.
Cara memecahkan masalah hambatan
komunikasi dalam organisasi !
Jawab
: Mengatasi dengan umpan balik, penerima harus mengetahui latar belakangnya,
dan susun informasi secara rinci.
5.
Upaya agar organisasi itu bisa
menjadi lebih eksis dan mampu menjalankan fungsinya secara optimal !
Jawab
: Dalam suatu organisasi harus bisa berkomunikasi dengan baik salah satunya
komunikasi antara atasan dengan bawahannya. Kalau komunikasinya baik otomatis
organisasi itu akan tetap eksis.
6.
Contoh kasus masalah komunikasi
dalam kehidupan sehari-hari !
Jawab
:Contoh kasusnya ada salah satu perusahaan yang meminta atasannya agar
perusahannya maju kembali. Salah satunya intansi IBM, intansi ini nonaktif
dalam produksi, ia meminta masukkan agar instansi itu bisa berdiri kembali dan
menjadi aktif lagi.
7.
Faktor utama yang menghambat suatu
komunikasi dalam organisasi !
Jawab
: Didalam suatu organisasi pasti ada saja hambatannya. Faktor utama yang
menghambat suatu komunikasi dalam organisasi yaitu faktor manusiawi dan faktor
emosional.
PERUBAHAN DAN PERKEMBANGAN
ORGANISASI
Perubahan itu adalah suatu perubahan
yang berbeda dengan semulanya. Perubahan bisa terjadi kapan saja, dimana saja
dan dengan siapa saja. Perkembangan sama saja seperti berkembang yang artinya
besar atau melebar. Faktor-faktor perubahan organisasi ada 2 yaitu faktor
eksternal dan faktor internal. Tujuan suatu organisasi itu yaitu suatu suatu
rencana yang akan dicapai dengan jelas. Selain itu macam-macam tujuan perubahan
dan perkembangan organisasi itu kita bisa melakukan penyesuaian yang terjadi
terhadap organisasi tersebut, mempererat organisasi, dan lain-lain. Dampak dari
perubahan dan perkembangan organisasi itu ada 2 yaitu dampak positif dan danpak
negatif. Dampak positifnya bisa memberi rasa nyaman kepada masyarakat karena
sudah mempercayai organisasi yang telah diikuti sedangkan dampak negatifnya
dapat menimbulkan keresahan. Dalam sebuah organisasi kita harus tahu apa saja
tahapan-tahapan yang akan kita buat dalam melakukan perubahan dan perkembangan
organisasi. Yang pertama kita harus mengadakan pengkajian terlebih dahulu lalu
mengidentifikasi, setelah itu menetapkan perubahan dan juga strategi yang ingin
kita buat itu seperti apa,lalu yang
terakhir melakukan evaluasi.
Pertanyaan
:
1. Sebutkan cara menghindari
penghambatan dalam melakukan perubahan organisasi!
Jawab :
-
Mempersiapkan faktor-faktor yang
mendukung perubahan organisasi.
-
Memberikan penjelasan tentang
keuntungan adanya perubahan, dampak positifnya, dan akibatnya.
-
Meyakinkan bahwa perubahan
organisasi adalah suatu usaha untuk mencapai kesempurnaan disegala hal.
2. Sebutkan organisasi yang sedang
berkembang dan sebutkan dampaknya!
Jawab : Salah satu organisasi yaitu
adalah petugas pembersihan paku dijalan raya. Dampaknya bagi masyarakat tentu
sangat baik.
3. Dalam organisasi apakah ada cara
untuk melakukan perubahan organisasi tersebut ?
Jawab : Ada, yaitu dengan cara:
-
Mengadakan perubahan struktur
organisasi, struktur organisasi itu adalah salah satu komponen yang menjadi
sasaran perubahan.
-
Mengubah sikap dan perilaku dengan
pembinaan, pengembangan pendidikan dan latihan pegawai.
-
Mengubah tata aliran kerja.
4. Apa yang membuat organisasi itu
berubah, dan apakah perubahan itu akan menjadi lebih baik?
Jawab : Yang membuat suatu
organisasi itu berubah yaitu karena tujuannya. Iya, karena suatu organisasi itu
menjadi lebih baik dengan adanya suatu tujuan.
5. Faktor apa yang sangat mempengaruhi
dalam perubahan dan perkembangan organisasi ?
Jawab : Faktor eksternal contohnya
organisasi yang terjadi dalam pemerintah diluar memaksa harus berubah dan
faktor internal contohnya hubunhan antara atasan dengan anggotanya terjadi
perbedaan pendapat dalam masalah yang ada didalam suatu perusahaan.
6. Apa yang terjadi bila perubahan dan
perkembangan suatu organisasi itu tidak berjalan dengan baik ?
Jawab : cepat atau lambat suatu
organisasi itu akan hilang, karena organisasi tersebut tidak mau melakukan
suatu perubahan. Kita harus melakukan suatu perubahan tidak boleh kaku dan
egois.
ARTI PENTING KEPEMIMPINAN DALAM
ORGANISASI
Latar
belakang sejarah timbulnya kepemimpinan sudah ada sejak nenek moyang kita.
Mereka membuat suatu kelompok untuk melindungi dirinya. Tujuannya agar mereka
saling melindungi dan sama-sama kuat. Kepemimpinan itu adalah kegiatan yang
mempengaruhi suatu perilaku seseorang dalam situasi tertentu. Organisasi adalah
susunan secara teratur dari berbagai bagian-bagian untuk mencapai tujuan
tertentu. Dalam suatu organisasi anggota-anggotanya harus jelas. Organisasi itu
mengandung unsur yang membentuk kelompok agar suatu tujuan tersebut tercapai.
Kepemimpinan dalam organisasi pasti mempunyai peranan penting dalam organisasi
tersebut. Fungsi kepemimpinan salah satunya yaitu menyampaikan informasi kepada
anggotanya. Selain itu pemimpin harus memberikan motivasi kepada para
anggotanya yang pasif magar bisa aktif kembali. Seseorang pemimpin juga harus
mempunyai wibawa, jika tidak mempunyai wibawa biasa saja anggotanya semena-mena
terhadap pemimpinnya. Dizaman sekarang ini sudah jarang yang mempunyai jiwa
kepemimpinan. Kebanyakan dari mereka hanya menginginkan jabatan saja. Salah
satu contoh jenis kepemimpina yaitu pemimpin negara. Banyak yang mengatakan
bahwa Pemimpin dan Kepala itu sama padahal sebenarnya Pemimpin dan Kepala itu
berbeda. Pemimpin adalah orang yang dipilih oleh kelompoknya sendiri sedangkan
Kepala adalah orang yang diangkat dengan aturan tertentu. Tanpa adanya
kepemimpinan suatu organisasi tidak akan ada yang mengatur jalannya sebuah
organisasi dan jika ada masalah akan terjadi hambatan karena tidak ada yang
memberikan pendapat atau aspirasinya untuk mengatasi masalah tersebut.
Pertanyaan :
1.
Jelaskan tipe kepemimpinan Presiden
yang ada di Indonesia !
Jawab
:
- Ir. Soekarno adalah presiden yang
mempunyai tipe kharismatik.
- BJ. Habibie adalah presiden yang
mempunyai tipe demokratik dan cerdik.
- Susilo Bambang Yudhoyono adalah
presiden yang mempunyai tipe otoriter, demokratis, dan juga kharismatik.
2.
Jika terjadi perbedaan pendapat apa
kebijakan yang dilakukan dan berikan contoh kasusnya !
Jawab
: Seorang pemimpin harus bisa mengetahui konfliknya apa dan cara menanganinya
dengan melakukan pendekatan. Jika tidak bisa dengan cara pendekatan bisa
diberikan surat peringatan sampai 3kali dan kalu memang tetap tidak bisa juga
harus dikeluarkan dari organisasi tersebut namun jika sama-sama salah antara
angggota dan atasannya harus diberikan optional apakah ingein tetep bertahan
dalam organisasi tersebut atau keluar dari organisasi tersebut.
3.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
kepemimpinan!
Jawab
:
- Faktor Kemampuan Personal
Seorang pemimpin yang mendapatkan jiwa kepemimpinan dari
sejak lahir biasanya akan lebih hebat daripada yang ditanamkan dari sekolah.
- Faktor Jabatan
Suatu perusahaan ada yang namanya Manajer, HRD, dan
lain-lain. Ia mempunyai kemampuan kepemimpinan yang sama namun mempunyai
jabatan yang berbeda.
4.
Apakah ada jiwa kepemimpinan
otoriter?
Jawab
: ada, salah satu contohnya M. Khadafi adalah seorang presiden yang mempunyai
jiwa kepemimpinan otoriter. Beliau bisa mengayomi rakyatnya.
Langganan:
Postingan (Atom)